CUBALAH bAca..

HAWA NAFSU

Sekembalinya dari suatu peperangan besar, Nabi berkata; “Kita pulang dari Jihad terkecil
menuju Jihad terbesar.”
Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah gerangan Jihad terbesar itu ?”
Nabi menjawab, “Jihaadun nafs (Perang melawan hawa nafsu).”

Hawa nafsu adalah keinginan-keinginan diri, misalnya keinginan-keinginan yang berhubungan
dengan perut dan kemaluan, keinginan untuk bersenang-senang, keinginan untuk dianggap
penting, diistimewakan dan diakui, kecenderungan bersikap fanatik dan ekstrim,
bersikap sombong dan merasa paling benar dan lain-lain.
Dan yang paling bahaya adalah kecenderungan untuk melampiaskan amarah,
alhasil hawa nafsu adalah sumber kebatilan dan bencana.

Hawa dan nafsu *(sebenarnya hawa dan nafsu adalah istilah terpisah dan memiliki
pengertian sendiri-sendiri, hawa merupakan sumber kedurhakaan dan merupakan
makanan bagi nafsu.)* ini sangat menakjubkan dan jenisnya sangat banyak.
Ia juga membuat manusia bersemangat, baik dalam kejahatan maupun kebaikan,
mereka yang dipengaruhi hawa nafsu tampak seperti orang yang tidak waras pikirannya.
Mereka melakukan korupsi dan menghalalkan segala cara dalam mencari harta,
mereka dipermainkan oleh wanita sehingga melakukan perbuatan kurang terhormat
yang akhirnya merendahkan dirinya.
Mereka mengeluarkan sangat banyak harta untuk meraih kedudukan,
karena hawa…mereka melakukan semua perbuatan tercela dengan penuh semangat.
Akal mereka seakan-akan tidak berfungsi, mereka dilalaikan dari resiko-resiko
yang harus mereka tanggung akibat perbuatan mereka.

Hawa nafsu ini sangat tersembunyi dan sulit dipahami sehingga manusia sering kali
tidak dapat merasakan kehadirannya, bahkan ahli ibadah pun bisa tertipu olehnya.
Oleh karena itu Alloh SWT sering menggunakannya untuk menguji hamba-Nya.
Mereka yang ingin digolongkan sebagai kaum ‘Muqorrobin’ harus mampu menahan
amarahnya karena itulah cara yang paling ampuh untuk merobek hijab yang mendindingi
seorang makhluk dengan Kholiqnya.
Cara yang disarankan oleh para ulama dalam menghadapi hawa nafsu ini adalah
dengan ‘Mujahadah’ (perjuangan) dan ‘Mukholafah’ (penentangan).

Dalam Burdah disebtkan ;
Nafsu itu seperti bayi
Jika kau biarkan, ingin terus disusui
Jika kau sapih
Ia tak akan menagih.

Ada yang mengatakan bahwa nafsu itu seperti penyakit eksim, semakin kita garuk..
semakin menagih garukan yang lebih keras lagi.
Jika kau ikuti hawa nafsu
Ia akan menuntunmu
Kepada semua perbuatan
Yang tercela bagimu.

Keinginan-keinginan hawa nafsu itu datang terus menerus seperti ombak lautan,
hampir tidak pernah reda.
Lalu apa beda bisikan setan dengan bisikan hawa nafsu ?
Setan selalu mengajak manusia untuk berbuat jahat, kalau si manusia tidak mau..
ia akan berhenti dan mencoba menggodanya dengan maksiat lain.
Karena bagi setan yang penting manusia melakukan kemaksiatan walau kecil,
adapun hawa nafsu ia tidak akan pernah berhenti menggoda sampai manusia
bertekuk lutut kepadanya/ keinginan tersebut dapat dicapai.

Kiat untuk Menghadapi Hawa Nafsu :

•    Membatasi keinginan-keinginan kita, andaikata ada 10 keinginan,
kita kabulkan 3 saja, misalnya ia menuntut banyak, kita beri sedikit saja,
nanti ia akan merasa cukup.
•    Memikirkan dengan baik akibat dari tindakan kita kelak.
•    Membayangkan keutamaan yang akan kita peroleh dengan mengendalikan hawa nafsu.
•    Menunda keputusan atau tindakan yang akan diambil,
karena dengan lewatnya waktu..keinginan-keinginan yang menggebu itu
biasanya akan berubah atau melemah.
•    Mengalihkan perhatian kita kepada hal-hal menarik lainnya yang lebih aman.
•    Membaca cerita orang-orang sholih dalam mengalahkan hawa nafsunya.
•    Bergaul dengan para ahli ‘Riyadhoh’ untuk membangkitkan semangat.
•    Tidur lebih awal, biasanya ketika bangun tidur keinginan-keinginan kita berubah,
atau melemah, atau hilang sama sekali.
•    Amati keinginan-keinginan itu dan kendalikanlah sebagai pelajaran
untuk mengalahkannya disaat lain.

Kata – Kata Bijak :

Al-Allamah Muhammad bin Abdulloh bin Syeikh Alaydrus dalam ‘Idhoohu Asroor
Uluumil Muqorrobiin menjelaskan;
•    Para Ashaabul Haq Ta’ala dalam semua perilakunya makan, tidur, berbicara
dan lain-lain, mereka hanya melakukannya sebatas keperluan mendesak (dhoruri)
Dalam pandangan mereka segala sesuatu yang melebihi batas keperluan
merupakan bagian dari ‘hawa’.
•    Diriwayatkan bahwa Alloh SWT berkata kepada Musa AS;
“Jika kau menginginkan keridhoan-Ku, maka tentanglah nafsumu.”
•    Hamba yang sejati adalah yang tidak lagi memiliki keinginan,
yang ada dibenaknya hanyalah keinginan Aloh SWT.
•    Kebanyakan kegiatan kaum awam hanyalah berupa formalitas (rusum)
dan adat kebiasaan.
Mereka hanya memperhatikan bentuk lahiriah amal dan mengabaikan
berbagai rahasia yang terkandung didalamnya.
Lain halnya dengan kaum arifin, perhatian mereka tertuju pada berbagai rahasia
yang tersembunyi dalam ketaatan dan manfaat dari ibadah yang mereka lakukan.


Sebagaimana burung elang yang letih setelah melesat ke angkasa,
ia lalu melipat sayapnya menukik menuju sarangnya untuk istirahat,
demikian pula diri kita memasuki tidur tanpa mimpi,
dimana ia dibebaskan dari segala nafsu.